Showing posts with label aids. Show all posts
Showing posts with label aids. Show all posts

Thursday, December 1, 2011

Ingat-ingat! Ini Cara Penularan HIV AIDS

img 

(Foto: thinkstock)

Jakarta, HIV AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit yang belum bisa disembuhkan dan belum ada obatnya. Penularannya terjadi dari cairan ditubuh maka itu penting untuk mengetahui cara-cara penularan HIV AIDS. Setelah dinyatakan positif terkena HIV biasanya ada masa 5-10 tahun virus ini benar-benar bisa 'melumpuhkan' penderitanya. AIDS timbul sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV di dalam tubuh manusia. Meski kini dengan terapi ARV (Antiretroviral) penderita HIV AIDS bisa berumur panjang bersama penyakitnya. Setelah virus memasuki tubuh, maka virus akan berkembang dengan cepat. Virus ini akan menyerang limfosit CD4 (sel T) dan menghancurkan sel-sel darah putih sehingga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Orang dengan HIV akan memiliki jumlah sel darah putih yang kecil. Pada tahap awal terkena infeksi, virus ini biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala apapun. Gejalanya baru akan muncul setelah dua sampai empat minggu. Gejala awal HIV adalah mengalami sakit kepala yang berat, demam, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha. Seperti dikutip dari situs WHO, Senin (6/12/2010) ketika seseorang terinfeksi maka gejala awal yang muncul terkadang mirip dengan flu atau infeksi virus sedang. Pada stadium lanjut gejala HIV memperlihatkan kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan, batuk kering, demam berulang atau berkeringat saat malam hari, kelelahan, diare yang lebih dari seminggu, kehilangan memori, depresi dan juga gangguan saraf lainnya. Karena ganasnya penyakit ini, sebaiknya ingat-ingat terus cara penularan HIV AIDS. Intinya penularannya terjadi dari cairan ditubuh. Virus HIV berada dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain. Jadi penularan melalui ciuman tidak terjadi. 

1. Hubungan seks, terutama melalui anus (anal) Orang yang punya penyakit infeksi jika memiliki luka atau ada cairan dari tubuh yang keluar maka bisa 10 kali menularkan potensi HIV kepada pasangannya lewat hubungan seks. Perilaku gonta ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom juga sangat berisiko. Lakukan hubungan seks yang aman. 

2. Penggunaan bersama jarum suntik yang terkontaminasi oleh pemakai narkoba atau perawatan kesehatan Jarum suntik yang sudah dipakai bisa mengandung cairan dari pemakainya. Kebiasaan seperti ini yang banyak digunakan pemadat. Padahal jarum suntik hanya sekali pakai. 

3. Transfusi darah Penularan melalui transfusi darah risikonya sangat tinggi, maka itu bank darah biasanya akan mengecek berulang-ulang pada darah yang digunakan pasien melalui skrining yang ketat. 

4. Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui Ibu hamil yang punya penyakit HIV berisiko tinggi menularkan ke bayinya saat masa hamil, bersalin dan menyusui. Penularan HIV dari ibu hamil ke anak bisa terjadi karena infeksi melewati plasenta, saat proses persalinan atau menyusui. Sumber infeksi ini bisa dari darah ibu, plasenta, cairan amnion dan ASI. Kemungkinan bayi tertular HIV dari ibunya pada masa kehamilan adalah 15-20 persen. Sedangkan pada saat kelahiran 10-15 persen, dan pada saat menyusui adalah 15-20 persen. Untuk mengurangi ancaman anak yang dilahirkan tertular HIV dari ibu hamil, menurut dr Utami semua ibu hamil HIV harus diberi obat ARV (Antiretroviral). Pemberian ARV ini dapat menurunkan secara drastis kemungkinan bayi tertular HIV pada masa kehamilan. 

 5. Terjadinya luka akibat pemakaian benda yang bersamaan seperti silet, pisau cukur juga bisa menularkan HIV. Jadi hindari penggunaan barang-barang seperti itu bergantian, lebih baik punya sendiri, sumber 

http://www.detikhealth.com/read/2010/12/06/102216/1509687/763/ingat-ingat-ini-cara-penularan-hiv-aids

AIDS: Benarkah Akibat 'Itunya' Dipakai Sembarangan?

img 

Foto: thinkstock

Jakarta, Perilaku seks bebas sering disebut-sebut sebagai penyebab utama penularan HIV/AIDS. Akibatnya, penderitanya mendapatkan stigma negatif di masyarakat. Benarkah HIV hanya menular melalui hubungan seks? dr Aritha Herawati, Kepala Bidang Terapi dan Rehabilitasi Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta mengaku prihatin dengan anggapan semacam itu. Berdasarkan data yang ia miliki, penularan HIV melalui hubungan seks justru bukan yang tertinggi. Jadi AIDS tak selamanya karena akibat hubungan seks. "Penularan melalui hubungan seks memang tinggi, tapi yang tertinggi tetap melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian yakni sekitar 60 persen," ungkap dr Aritha saat dihubungi detikHealth

Kamis (30/9/2010). Menurutnya, saat ini pemakaian jarum suntik paling berisiko menularkan HIV karena populasi pengguna narkoba suntik masih sangat tinggi. Karena ilegal dan dilakukan diam-diam, umumnya perilaku para pecandu lebih sulit dikendalikan. Risiko penularan melalui hubungan seks juga tinggi, namun belum melebihi 40 persen. Menurut dr Aritha, angka itu sudah termasuk ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya sendiri. "Ibu rumah tangga juga berisiko lho, misalnya kalau suaminya suka jajan sembarangan. Sampai di rumah berhubungan dengan istrinya, lalu istrinya tertular. Istrinya juga berisiko menularkannya lagi ke anaknya," ungkap dr Aritha. Anak-anak yang tertular HIV dari ibunya inilah yang seringkali menanggung dosa akibat stigma negatif yang berkembang di masyarakat. Saat tumbuh dewasa, bisa jadi orang akan mengiranya sebagai pengguna narkoba atau pelaku seks bebas. Untuk itu dr Aritha menghimbau agar stigma negatif mulai disingkirkan. Ia tidak ingin membenarkan perilaku seks bebas maupun narkoba, namun mengucilkan penderita HIV/AIDS dan melabelinya dengan stigma negatif menurutnya tidak manusiawi. "Siapapun bisa tertular, jadi tidak usah main cap atau stigma. 

Yang penting jaga diri sajalah agar tidak tertular, salah satunya memang dengan selalu setia pada pasangan tetap," ungkap dr Aritha. Salah satu joke yang dinilai ikut melestarikan stigma tersebut dilontarkan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring melalui Twitter, Rabu (29/9/2010) malam. Dalam akunnya, Tifatul mengutip pernyataan mantan Menkes Prof Sujudi bahwa AIDS adalah singkatan dari 'Akibat Itunya Dipakai Sembarangan'. Data United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) menujukkan penularan kumulatif kasus AIDS tertinggi pada tahun 2009, adalah melalui heteroseksual (50,3 persen), diikuti penggunaan jarum suntik (40,2 persen), dan homoseksual (3,3 persen). Sementara Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH dr ph dalam acara seminar 'How to deal with HIV AIDS' di aula FKUI Salemba pada Juni 2010, menuturkan dalam upaya pengendalian HIV AIDS tetap harus menghormati harkat, martabat, norma dan agama, serta memperhatikan keadilan, kesejahteraan dan juga jenis kelamin. Hal lain yang juga penting adalah harus melindungi ODHA (orang dengan HIV AIDS) agar tidak dihakimi masyarakat. HIV AIDS merupakan salah satu penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga bisa menurunkan kualitas hidup orang tersebut. Untuk itu diperlukan langkah-langkah yang tepat agar bisa membantu mengurangi angka pengidap